Diriku, Anak Perantauan....
Postingan yang gak kreatif amat sih…hehehehee…Banyak
pengalaman dan kenangan sebagai seorang anak perantauan, ingin rasanya
menceritakan semua pengalaman yang saya alami sampai detik ini. Selama betahun2
hidup pisah dari ortu (dari smp bro/sis udah tingga sama orang), banyak rasa
yang campur aduk (kaya nano2 aja ya, heheheeee) ada rasa senang, sedih,
kesepian, kesusahan, rindu pokoke banyak deh gak bisa di uangkapkan satu
persatu.
Diriku, Anak Perantauan....
Oh iya perkenalkanlah diriku, namaku Tadonny Vani, biasa teman-temanku memanggil "Donny or Tadonny" sekarang masih merantau di Kota Yogyakarta untuk melanjutkan studi.
cukup segitu dulu perkenalan kita ya.....salam inspirasif.
Diriku, Anak Perantauan…
Sampai saat inipun aku masih
merantau, jauh dari keluargaku di Desa Toka dan Nanga Bulik, Kalimantan Tengah.
Tekatku yang sangat besar untuk melanjutkan studi membawaku ke Kota Salatiga,
kota yang kecil, udaranya sejuk, biaya hidup lumaian murah (kata saya sihhh,
heheheheee). Hidup sendiri di kota orang rupanya membuat aku banyak belajar dan
membentuk kepribadian yang lebih luar biasa dalam hidupku (menurut gue sihh,
heheheheee).
Diriku, Anak Perantauan…
Perjalanan panjang yang saya miliki selama
di Kota Salaitga, banyak susah-senang yang aku lalui, walaupun dalam kenyataan susahnya
itu lebih banyak (hehehehe) but it’s ok bagi gue, itulah yang harus aku jalani.
Selama aku di perantauan, aku harus ‘Mandiri’, apa-apa sendiri deh, dari urusan
hidup sampai urusan kuliah. Urusan yang paling krusial menurut aku adalah
urusan keuangan yang membuat aku berpikir berkali-kali lipat di setiap akhir
bulan yaitu masalah “Bagaimana gue bisa hidup dan makan dengan uang yang
seadanya!!!” (wahhh lebay amat gue ya…,but itulah kenyataannya sebagai seorang
anak perantauan, sensasi yang luar biasa guy…). Ya, kalau sudah seperti itu
yang menjadi penyelamat aku adalah Telur dan Mie Instan dan Bumbu-Bumbu masakan
yang tersisa deh (aku berterima kasih ama mereka2 yang menjadi penyelamat hidup
gue, hehehee). Akhir bulan ajang aku menjadi seorang koki (kata teman gue,
ajang menjadi “Ibu Rumah Tangga”, hehehehe) yang sangat pintar sekali mengolah
makanan agar enak di makan dan kenyang di perut atau biasanya aku berubah
menjadi seorang pengumpul receh (kata teman gue itu “Kolektor”, hehehee) yaaa
kalau di kumpulkan bisa membeli makanan selama beberapa hari deh, hehehe.
Sebenarnya uang yang dikirimkan oleh
ortuku setiap bulan sangatlah memadai, tetapi hal-hal yang tidak terduga lebih
banyak dari yang aku perkirakan, mau minta sama ortu lagi malu sudah (gimana
gitu, bisa-bisa jadi beban deh bagi ortu gue). Sebagai anak yang baik hati ( wissss
gaya bangettt gueeee) aku harus bisa bertahan dengan kiriman ortuku itu, dengan
cara mengolah uang tersebut dengan baik dan berusaha menabung (wahhh jadi anak
rajin menabung gue, heheheee) tapi kenyataannya sampai sekarang rekeningku gak
nambah-nambah tu (saldo 50 ribu terusss, hehehehehe) tapi itulah pelajaran yang
berharga yang aku pelajari setiap bulannya (tapi gak kapo2, diulangin terus
kesalahan yang sama, hehehehe) dan sampai sekarang belum lulus-lulus juga aku
dalam hal pelajaran “Berhemat”. Tapi aku bersyukur gak sampai ngutang sama warung-warung
tetangga di area tempat tinggalku, hehehe.
Diriku, Anak Perantauan…
Bukan hanya pengalaman seputar
keuangan, pengalamanku bersama teman-teman seperantauan dan teman-temanku di
GKI Salatiga. Banyak suka dan duka yang aku lewati bersama mereka, mereka ku
anggap seperti keluargaku disini. Rasa kebersamaan dan saling tolong-menolong membuat
persahabatanku dengan mereka semakin erat. Di kala aku sakit, di kala aku
kesusahan, di kala aku memiliki masalah, dan banyak lagi deh, merekalah yang
ada berdiri di sampingku menggantikan peran keluargaku. Siapa lagi yang bisa
aku minta bantuan selain mereka, hanya merekalah yang bisa membantuku di kota
ini. Aku banyak belajar dari mereka, sesulit apapun keadaanku ternyata masih
ada yang lebih sulit dariku. Banyak sekali pengalaman bersama mereka. Belajar bersyukur
di setiap saat juga aku dapatkan dari keadaan yang aku alami. Ya itulah hidup
yang harus aku jalani, selalu bersyukur karena dengan bersyukur aku akan merasa
cukup dalam hidup ini (senyum).
Keluarga
besarku di kota Salatiga
Diriku, Anak Perantauan…
Aku anak perantauan dengan duit
pas-pasan, tapi tidak menghalangin aku untuk berkeliling ke tempat-tempat yang
aku suka, banyak jalan yang bisa aku jelajahi untuk mengisi masa mudaku
(sebelum punya keluarga jadi penjelajah dulu deh, hehehe). salah satu caranya mencari
sesuatu yang gratisan (yang penting halal bro/sis). Kapan lagi merasakan
semuanya secara gratis ketika traveling ke suatu tempat atau medapat makan
gratis atau yang lainnya deh (keliatan banget ya gue ini anak kos-kosan,
hehehehe). Ya itulah kenyataannya menjadi seorang anak perantauan, banyak hal
yang bisa di dapatkan (sensasi anak perantauan bro/sis).
Diriku, Anak Perantauan…
Ya, sebenarnya banyak pengalaman
yang mau aku ceritakan, tapi kayanya gak bakalan habis kalau aku ceritain
disini, dilain kesempatan akan aku sambung lagi cerita ini. Intinya dari
ceritaku ini adalah banyak pengalaman berharga yang aku dapatkan selama
merantau. Salah satu hal yang berat adalah menahan rindu pada keluarga. Sering kali
aku termenung (pikiran saya melayang-layang bersama keluarga). Menjadi anak
perantauan ini, aku di tempat dan dibentuk untuk menjadi pribadi yang luar
biasa yang bisa berdiri sendiri di atas kakiku tanpa bantuan siapapun (walaupun
terkadang tidak bisa dipungkiri aku butuh orang lain untuk bisa beridiri). Sekali
lagi itulah jalan hidupku yang harus aku syukuri setiap saat, tanpa kekuatan
Tuhan semuanya itu tidak mungkin, tapi bersama Tuhan semuanya itu mungkin.
Hidup itu anugerah Tuhan, jadi jalanilah hidup itu sesuai dengan anugerah yang
Tuhan berikan kepada diriku.
Okay, kayanya segitu dulu ya cerita yang bisa
aku bagikan buat kalian…soalnya udah ngantuk ni sob…akhir kata “Tetap Semangat,
salam See-Do-Get”. Tuhan Memberkati. (tdv)











